By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Update CirebonUpdate CirebonUpdate Cirebon
  • Home
  • Ciayumajakuning
  • Berita Nasional
  • Seni & Budaya
  • Religi
  • Olahraga
  • Featured
Reading: PBNU hingga Sejarawan Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Dosanya Besar bagi NU dan Masyarakat
Share
Update CirebonUpdate Cirebon
  • Home
  • Ciayumajakuning
  • Berita Nasional
  • Seni & Budaya
  • Religi
  • Olahraga
  • Featured
Search
  • Home
  • Ciayumajakuning
  • Berita Nasional
  • Seni & Budaya
  • Religi
  • Olahraga
  • Featured
Follow US
Update Cirebon > Berita Nasional > PBNU hingga Sejarawan Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Dosanya Besar bagi NU dan Masyarakat
Berita Nasional

PBNU hingga Sejarawan Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Dosanya Besar bagi NU dan Masyarakat

Muhajir
Last updated: 2025/11/08 at 1:45 AM
Muhajir Published November 8, 2025
Share
SHARE

UPDATECIREBON.COM – Ciputat – Diskusi publik “IslamiTalk” yang diselenggarakan oleh Islami.co di Outlier Cafe Ciputat, Jakarta, menghasilkan penolakan kolektif dan tegas terhadap wacana pengangkatan Presiden ke-2 RI Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

Acara yang dihadiri oleh sejumlah aktivis dari berbagai organisasi mahasiswa dan masyarakat sipil ini menyoroti kekerasan politik dan represi sistematis Orde Baru terhadap kekuatan sipil, terutama Nahdlatul Ulama (NU) dan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Hadir Sejarawan Bonnie Triyana, Budayawan Hairus Salim, Aktivis Gen Z NU Lily Faidatin, dan Ketua PBNU Savic Ali—secara serempak mengukuhkan pandangan bahwa warisan kekerasan sistemik, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan korupsi yang melekat pada rezim Orde Baru tidak memenuhi prasyarat etis maupun moral untuk sebuah gelar kepahlawanan.

Bonnie Triyana, Sejarawan dan Anggota DPR, sendiri menyebut upaya Soeharto dijadikan Pahlawan narasi tunggal soal Pahlawan dan legitimasi kekerasan yang berdarah selama orde baru.

Ia juga menjelaskan legitimasi kekuasaan Soeharto dibangun di atas krisis dan pemaksaan sejarah.

“Soeharto menjadi presiden karena krisis politik, maka dari itu butuh sejarah untuk melegitimasi kekuasaannya,” ujar Bonnie dalam diskusi Islami Talk yang digelar Islami.co di Kafe Outlier, Jakarta (7/10/2025)

“Pembantaian dan penangkapan massal pengikut PKI berlangsung sampai tahun 1969. Pada dasarnya, pengangkatan Soeharto bukan soal jasa, tetapi pertarungan memori publik—mempertarungkan memori untuk melegitimasi atau mendelegitimasi kelompok tertentu.”

Hal senada diungkap oleh Hairus Salim, Budayawan NU yang menguraikan strategi Orde Baru dalam melumpuhkan kekuatan ideologis partai-partai, termasuk NU yang memiliki basis massa besar.

Ia menggambarkan bagaimana proses politik di bawah Soeharto hanyalah formalitas belaka.

“ABRI digunakan untuk memaksa memilih Soeharto. NU yang memiliki suara dominan tidak pernah menduduki ketua umum PPP karena harus mendapat persetujuan Soeharto,” terang Hairus.

“Selama Orde Baru, NU sulit sekali berkembang, kecuali kiai-kiai yang pindah ke Golkar. Pemilu kala itu hanya formalitas; ideologi dilumpuhkan,” tambahnya.

Hal senada juga diungkap oleh Lily Faidatin, seorang aktivis Gen Z Nahdlatul Ulama yang menyebut, Soeharto punya dosa besar dan tak layak jadi pahlawan nasional.

Lily juga aktif di organisasi kepemudaan NU menyatakan penolakan atas nama keadilan dan kemanusiaan.

“Saya menolak dengan tegas Soeharto menjadi Pahlawan Nasional. Beliau mungkin pernah berjasa, tetapi dosanya lebih banyak. Ayah saya sendiri menjadi korban penangkapan karena aksi mengkritisi Soeharto,” kata Lily. “Soeharto tidak punya cukup alasan untuk dipahlawankan.”

Sedangkan Ketua PBNU Savic Ali, mengatakan ia tegas menolak Soeharto karena orde baru dalam sejarahnya mengebiri Nahdlatul Ulama di segala level, mulai politik sampai pendidikan.

Ia juga menjelaskan soal mekanisme kontrol tripartit Orde Baru (ABRI, Birokrasi, Golkar) yang mengekang pergerakan NU baik sebagai organisasi maupun pesantren.

Ia mencontohkan soal pemilu 1971 ketika NU dipaksa lebur jadi PPP dan mulai politik satu arah, semuanya harus pro Soeharto lewat Golkar.

“KH Idham Chalid pernah berkata kita disuruh tanding tinju, tetapi kedua tangan kita diikat. Namun, suara NU di pemilu bertahan di angka 18 persen, artinya NU mampu bertinju dengan kedua tangannya diikat,” jelas Savic.

“Kalau Soeharto dipahlawankan, gak ketemu nalar kita karena Soeharto bagian dari masalah; legacynya banyak yang bermasalah, korbannya banyak sekali,” tambahnya.

Lantas ia menjelaskan pahlawan adalah mereka yang berani berkorban demi orang lain, bukan sebaliknya. Soeharto jelas bukan di sana.

“Pahlawan bagi saya adalah orang yang berani mempertaruhkan kepentingan dan keselamatan dirinya untuk kepentingan orang lain, sedangkan Soeharto mendahulukan kepentingan dirinya dan kroninya.”

Diskusi ini menyimpulkan bahwa pengangkatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan tindakan yang mengkhianati jutaan korban pelanggaran HAM berat, menegasikan luka sejarah represi politik, dan secara fundamental mendegradasi standar kepemimpinan ideal di masa depan yang harus menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis dan penghormatan terhadap HAM.

Editor: Fahmi

Rekomendasi

Berita Nasional

Serius Tangani Kendaraan Lebih Dimensi Dan Lebih Muatan, KEMENHUB Susun Quick Win

Berita Nasional

Trans Lokal Di Papua, Wamen Viva Yoga: Jalan Mengentaskan kemiskinan dan Kesetaraan Pembangunan

Berita Nasional

Kemenhub Serahkan Sertifikat Tipe Validasi Drone Kargo HY100, Tonggak Baru Inovasi Penerbangan Nasional

Berita Nasional

Satgas PRR Pastikan Penyintas Bencana Sumatera Nyaman Tinggal di Huntara

Muhajir November 8, 2025 November 8, 2025
Share This Article
Facebook Twitter Email Print
Leave a comment Leave a comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

Berita Nasional
Satgas PRR Pastikan Penyintas Bencana Sumatera Nyaman Tinggal di Huntara
May 7, 2026
Berita Nasional
Kemendagri Perluas Pemanfaatan IKD, Ratusan Ribu Warga Akses Layanan Tanpa Fotokopi KTP
May 7, 2026
Berita Nasional
Trans Lokal Di Papua, Wamen Viva Yoga: Jalan Mengentaskan kemiskinan dan Kesetaraan Pembangunan
May 6, 2026
Berita Nasional
Serius Tangani Kendaraan Lebih Dimensi Dan Lebih Muatan, KEMENHUB Susun Quick Win
May 6, 2026

Stay Connected

49 Follow
212 Follow

Berita Terkait

Berita Nasional

Satgas PRR Pastikan Penyintas Bencana Sumatera Nyaman Tinggal di Huntara

May 7, 2026
Berita Nasional

Kemendagri Perluas Pemanfaatan IKD, Ratusan Ribu Warga Akses Layanan Tanpa Fotokopi KTP

May 7, 2026
Berita Nasional

Trans Lokal Di Papua, Wamen Viva Yoga: Jalan Mengentaskan kemiskinan dan Kesetaraan Pembangunan

May 6, 2026
Berita Nasional

Serius Tangani Kendaraan Lebih Dimensi Dan Lebih Muatan, KEMENHUB Susun Quick Win

May 6, 2026
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Pedoman Media Siber
Reading: PBNU hingga Sejarawan Tolak Gelar Pahlawan Soeharto, Dosanya Besar bagi NU dan Masyarakat
Share
Follow US
©2023 updatecirebon.com - All Rights Reserved.
berita cirebon
Welcome Back!

Sign in to your account

Lost your password?