UPDATECIREBON.COM – Pelemahan nilai tukar rupiah yang mendorong kurs dolar AS berada di kisaran Rp17.704 per dolar menjadi perhatian serius bagi pelaku usaha ekspor. Di tengah naiknya biaya produksi, eksportir furnitur rotan di Majalengka memilih memanfaatkan selisih kurs sebagai strategi bertahan agar tetap kompetitif di pasar global.
Kenaikan kurs dolar memang memberi peluang tambahan pendapatan bagi eksportir karena transaksi perdagangan internasional menggunakan mata uang dolar AS. Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya menghadirkan keuntungan. Sejumlah bahan baku dan komponen produksi justru ikut mengalami lonjakan harga yang membebani operasional industri.
Hamdi, pelaku usaha furnitur rotan ekspor di Majalengka, mengatakan tekanan paling besar dirasakan dari kenaikan harga bahan baku hingga perlengkapan pendukung produksi.
“Yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku rotan, bahan finishing, hingga komponen pendukung seperti bantal, engsel, dan kulit untuk produk rotan. Hampir seluruh kebutuhan produksi mengalami kenaikan,” ujar Hamdi.
Kondisi itu membuat industri furnitur ekspor harus bekerja lebih efisien di tengah pasar global yang semakin kompetitif. Biaya operasional meningkat, sementara pelaku usaha tetap dituntut menjaga kualitas dan stabilitas harga agar tidak kehilangan pasar.
Meski demikian, pelemahan rupiah memberikan ruang napas bagi eksportir. Nilai tukar dolar yang tinggi memberi tambahan margin ketika hasil ekspor dikonversi ke rupiah. Selisih kurs tersebut dimanfaatkan sebagai strategi subsidi silang untuk menutup kenaikan biaya produksi.
Hamdi menjelaskan, langkah itu menjadi cara agar harga jual produk tetap stabil dan tidak membebani buyer dengan penyesuaian harga yang terlalu tinggi.
“Walaupun biaya produksi naik, nilai kurs dolar terhadap rupiah membantu kami menutup kenaikan tersebut. Jadi harga jual ke buyer masih bisa dipertahankan dan tidak mengalami kenaikan,” katanya.
Menjaga stabilitas harga, lanjut Hamdi, menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya saing produk furnitur Indonesia di pasar ekspor.
Persaingan kini tidak hanya datang dari pelaku usaha dalam negeri, tetapi juga dari negara-negara produsen besar di Asia yang menawarkan kapasitas produksi tinggi dan harga lebih kompetitif.
Ia menyebut, industri furnitur rotan Indonesia saat ini harus bersaing ketat dengan produsen dari China, Vietnam, Bangladesh, hingga India.
“Kalau harga kita naik terlalu tinggi, buyer bisa dengan mudah beralih ke negara lain yang menawarkan harga lebih murah. Karena itu, menjaga efisiensi dan stabilitas harga menjadi kunci agar produk Indonesia tetap diminati pasar internasional,” tutupnya.
Editor: Alwi
