UPDATECIREBON.COM – Masyarakat Sunda memiliki beragam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu yang masih dikenal hingga kini adalah nenjrag bumi, sebuah ritual yang dilakukan untuk bayi yang baru lahir sebagai simbol doa dan harapan agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang berani serta tidak mudah takut.
Tradisi nenjrag bumi banyak dijumpai di kalangan masyarakat Sunda, terutama di wilayah Bandung dan sekitarnya. Ritual ini menjadi bagian dari kearifan lokal yang mencerminkan nilai-nilai budaya sekaligus harapan orang tua terhadap masa depan anak.
Dalam salah satu prosesi, bayi diletakkan di atas lantai yang terbuat dari belahan bambu. Selanjutnya, ibu sang bayi menghentakkan kakinya ke lantai bambu tersebut sebanyak tujuh kali. Getaran yang dihasilkan menjadi bagian dari rangkaian upacara adat yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Selain menggunakan lantai bambu, terdapat pula variasi pelaksanaan di beberapa daerah. Pada prosesi ini, bayi dibaringkan di atas tanah, kemudian sebuah alu atau tongkat dipukulkan ke tanah di dekat bayi sebanyak tujuh kali. Meski tata cara pelaksanaannya berbeda, makna yang terkandung tetap sama, yakni sebagai bentuk doa dan harapan bagi sang anak.
Masyarakat Sunda meyakini bahwa tradisi nenjrag bumi dapat menjadi simbol terapi agar bayi tidak mudah terkejut atau merasa takut. Dengan demikian, diharapkan ketika dewasa nanti anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, pemberani, dan mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di tengah perkembangan zaman, tradisi nenjrag bumi tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang patut dilestarikan. Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, ritual ini juga mencerminkan kasih sayang orang tua serta harapan terbaik bagi kehidupan anak di masa depan.
Editor: Alwi
