UPDATECIREBON.COM — Permasalahan tingginya angka kematian ikan nila dan bengkaknya biaya operasional listrik kini mulai diretas oleh unit usaha perikanan BUMDes Jaya Abadi di Desa Durajaya, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon.
Langkah solutif ini terwujud melalui implementasi Teknologi Tepat Guna (TTG) bernama “E-Ox Level” yang diinisiasi oleh tim akademisi lintas perguruan tinggi. Kegiatan ini merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai penuh oleh DPPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia untuk tahun pelaksanaan 2026.
Program pemberdayaan ini diketuai oleh Nurul Ekawati dari Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon, dengan melibatkan dua anggota peneliti yakni Ilman Kadori dari Universitas Swadaya Gunung Djati dan Billi Rifa Kusumah dari UNU Cirebon, serta turut dibantu oleh mahasiswa.
Ketua Pelaksana Program, Nurul Ekawati, menjelaskan bahwa BUMDes Jaya Abadi memiliki potensi besar dengan 15 kolam biofloknya, namun terkendala oleh manajemen yang masih konvensional.
“Selama ini, pengelolaan air dan aerator masih mengandalkan perkiraan, sehingga tingkat kematian ikan per siklus cukup tinggi, mencapai 10-25%. Melalui pendanaan dari Kemdiktisaintek ini, kami hadir untuk mentransformasi manajemen BUMDes tersebut menuju akuakultur presisi. Target utama kami adalah menstabilkan kualitas air agar kelangsungan hidup ikan bisa melonjak ke angka 85-95%, yang pada akhirnya akan mendongkrak pendapatan desa,” ujar Nurul.
Sebagai solusi teknis, tim merancang dan menginstalasi teknologi “E-Ox Level”. Anggota tim peneliti, Billi Rifa Kusumah, yang berfokus pada perancangan instrumen, memaparkan keunggulan inovasi alat ini dalam menekan pengeluaran operasional.
“Sistem cerdas E-Ox Level ini kami rancang agar bekerja sepenuhnya memanfaatkan energi matahari melalui panel surya. Mesin aerator yang dulunya menyala 24 jam nonstop kini akan menyala dan mati secara otomatis menyesuaikan dengan kadar oksigen aktual di kolam. Otomatisasi ini kami proyeksikan mampu memangkas beban konsumsi energi listrik BUMDes hingga 15-25 persen,” jelas Billi.
Tidak hanya dari sisi perangkat keras, teknologi ini juga mengunggulkan sistem pemantauan jarak jauh (Internet of Things/IoT). Ilman Kadori, anggota tim yang membidangi informatika, menyoroti pentingnya digitalisasi pencatatan bagi pengelola.
“Seluruh riwayat data dari sensor oksigen terlarut (DO), pH, dan suhu air kini langsung terintegrasi dan terekam pada sebuah dashboard digital. Jika ada parameter air yang anjlok, sistem peringatan dini akan langsung mengirimkan notifikasi. Harapannya, pengurus BUMDes bisa merespons masalah kualitas air dalam waktu kurang dari satu jam dan mulai terbiasa mengambil keputusan bisnis berbasis data operasional yang konkret,” papar Ilman.
Inovasi dan pendampingan yang diberikan oleh kalangan akademisi ini disambut baik oleh Pemerintah Desa setempat. Kepala Desa Durajaya, Sukirman, menyampaikan apresiasinya terhadap program kemitraan tersebut karena sejalan dengan upaya desa menggerakkan roda ekonomi lokal.
“Kami dari Pemerintah Desa Durajaya sangat berterima kasih kepada tim dosen dan Kemdiktisaintek atas bantuan teknologi dan pelatihan ini. Program ini tidak hanya meringankan beban biaya BUMDes Jaya Abadi, tetapi juga mencerdaskan para pengurus lapangan kami. Harapan kami, sistem modern ini bisa terus berlanjut dan menjadikan Durajaya sebagai percontohan budidaya perikanan yang sukses di Kabupaten Cirebon,” ungkap Sukirman.
Untuk menjamin keberlanjutan program pasca-instalasi, tim pelaksana secara konsisten memberikan pendampingan intensif terkait operasional teknologi dan literasi digital kepada para pengurus BUMDes. Melalui sinergi kuat antara akademisi, masyarakat, pemerintah desa, dan pemerintah pusat, ketahanan pangan lokal yang mandiri energi optimis dapat segera terwujud.
Editor: Alwi
