UPDATECIREBON.COM — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdampak terhadap operasional penerbangan di sejumlah bandar udara. Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan memperpanjang penutupan sementara operasional beberapa bandara pada Minggu (6/9/2026) akibat sebaran abu vulkanik.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Lukman F. Laisa mengatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi intensif dengan operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, BMKG, serta pihak terkait lainnya.
Berdasarkan pembaruan informasi, sejumlah bandara terdampak memperpanjang waktu penutupan operasional.
Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK) memperpanjang penutupan mulai pukul 08.30 WIB hingga 13.30 WIB. Sementara Bandara Halim Perdanakusuma (HLP) dan Bandara Radin Inten II (TKG) memperpanjang penutupan hingga pukul 14.00 WIB.
Bandara Budiarto juga memperpanjang penutupan operasional hingga pukul 13.30 WIB. Adapun Bandara Pondok Cabe ditutup sementara hingga pukul 14.00 WIB dan Bandara Husein Sastranegara hingga pukul 16.00 WIB.
Dampak penutupan sejumlah bandara tersebut cukup signifikan. Berdasarkan pembaruan monitoring Ditjen Perhubungan Udara pada Minggu (6/9) pukul 10.35 WIB, tercatat 373 penerbangan terdampak.
Dari jumlah tersebut, Bandara Soekarno-Hatta menjadi yang paling banyak terdampak dengan 202 penerbangan. Rinciannya, 172 penerbangan dibatalkan, 18 mengalami keterlambatan, tujuh ditunda, empat dialihkan, dan satu penerbangan kembali ke bandara asal atau Return to Base (RTB).
Sementara di Bandara Radin Inten II terdapat delapan penerbangan terdampak dan seluruhnya berstatus dibatalkan. Bandara Halim Perdanakusuma mencatat 29 penerbangan terdampak dan seluruhnya juga berstatus dibatalkan.
Selain itu, terdapat penerbangan lain yang terdampak karena memiliki rute menuju atau berasal dari bandara yang mengalami penutupan.
Ditjen Perhubungan Udara menegaskan hak-hak penumpang yang terdampak tetap harus dipenuhi oleh maskapai sesuai ketentuan yang berlaku.
Maskapai diwajibkan memberikan pelayanan dan penanganan kepada penumpang, termasuk menyampaikan informasi mengenai perubahan status penerbangan serta memberikan pilihan penanganan sesuai aturan.
Untuk menghindari penumpukan penumpang di bandara, masyarakat yang akan melakukan perjalanan melalui bandara terdampak diimbau tidak datang ke bandara selama periode penutupan.
Calon penumpang juga diminta terus memantau informasi terbaru dari maskapai terkait status penerbangan masing-masing.
Ditjen Perhubungan Udara menegaskan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional.
Penyesuaian dan pemulihan penerbangan akan dilakukan secara dinamis berdasarkan perkembangan sebaran abu vulkanik serta hasil koordinasi dengan BMKG dan pihak terkait.
“Keselamatan dan keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan operasional,” ujar Lukman F. Laisa.
Ditjen Perhubungan Udara akan terus memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau bersama operator penerbangan, pengelola bandara, layanan navigasi penerbangan, BMKG, dan pihak terkait lainnya, serta menyampaikan informasi terbaru apabila terjadi perubahan signifikan.
Editor: Yudistira
