UPDATECIREBON.COM – Kondisi jembatan penghubung antara Desa Kedungdawa dan Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon, kini memprihatinkan. Infrastruktur yang menjadi akses utama masyarakat itu dilaporkan nyaris ambruk setelah pondasi penyangga di salah satu sisinya ambrol akibat derasnya arus Sungai Kedungpane.
Kerusakan terjadi usai wilayah Cirebon diguyur hujan deras dalam beberapa hari terakhir. Meningkatnya debit air sungai menyebabkan abrasi di bantaran sekitar jembatan hingga pondasi penyangga tak lagi mampu menahan beban.
Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi jembatan terlihat kritis. Salah satu pondasi telah ambrol dan menyisakan rongga besar di bawah badan jembatan. Sejumlah retakan juga tampak pada struktur konstruksi, menandakan bangunan tersebut dalam kondisi rawan dan berpotensi mengalami kerusakan lebih parah jika tidak segera ditangani.
Warga sekitar, Kartimo (70), mengaku khawatir karena kondisi jembatan terus memburuk dari waktu ke waktu. Menurutnya, abrasi di bantaran sungai semakin cepat akibat tidak adanya senderan atau pengaman di sisi sungai.
Ia menuturkan, beberapa tahun lalu jarak bantaran sungai dengan rumahnya masih cukup jauh. Namun kini, arus Sungai Kedungpane terus mengikis tanah hingga semakin mendekati kawasan permukiman warga.
Kartimo mengatakan, jembatan tersebut memiliki peran vital bagi aktivitas masyarakat. Selain menjadi akses utama penghubung dua desa, jembatan itu juga menjadi jalur yang digunakan para pelajar untuk menuju sekolah.
Jika jembatan sampai putus atau ambruk, warga harus mencari jalur alternatif dengan memutar cukup jauh karena jembatan terdekat berada di lokasi lain yang tidak mudah dijangkau.
“Jembatan ini sangat penting untuk warga. Kalau sampai putus, masyarakat harus memutar jauh, termasuk anak-anak sekolah yang setiap hari lewat sini,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, cuaca ekstrem beberapa waktu terakhir menyebabkan banjir merendam rumah dan kandang miliknya. Menurut Kartimo, kondisi seperti ini sebelumnya hampir tidak pernah terjadi.
Meski jembatan tersebut berdiri di atas tanah miliknya, ia mengaku telah mengikhlaskan lahan itu digunakan demi kepentingan masyarakat agar akses warga tetap berjalan.
Sementara itu, Kuwu Desa Kedungdawa, Sanita, menegaskan kondisi jembatan yang nyaris ambruk sangat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Bahkan, untuk menghindari risiko, sebagian pelajar kini terpaksa mengambil jalur alternatif dengan memutar hingga sekitar tiga kilometer.
Menurut Sanita, persoalan banjir di wilayah tersebut dipicu meluapnya Sungai Kedungpane yang hingga kini belum mendapatkan penanganan serius.
Ia menjelaskan, empat desa yakni Kedungdawa, Kedungjaya, Kedawung, dan Pilangsari sebenarnya telah mengajukan permohonan normalisasi sungai kepada Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCC) sejak 2023. Namun hingga kini, usulan tersebut belum terealisasi.
“Kami sudah mengusulkan normalisasi sungai sejak 2023, tetapi sampai sekarang belum ada realisasi. Sementara banjir dan abrasi semakin parah,” katanya.
Sanita menilai kondisi banjir saat ini jauh lebih buruk dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, hujan dengan durasi singkat kini sudah cukup membuat air meluap hingga masuk ke permukiman warga.
Ia juga menduga keberadaan pagar milik sebuah pabrik di sisi timur turut memengaruhi arah aliran air, sehingga debit banjir lebih banyak mengarah ke wilayah permukiman di sisi barat.
Selain faktor abrasi dan banjir, usia jembatan juga menjadi perhatian. Infrastruktur tersebut terakhir diperbaiki pada 2015 melalui anggaran desa, dengan penggantian material bagian atas dari bambu menjadi besi. Namun sejak saat itu, belum ada renovasi besar yang dilakukan.
Kondisi jembatan yang nyaris ambruk ini kini menjadi ancaman serius bagi keselamatan warga serta kelancaran mobilitas masyarakat di dua desa.
Warga berharap pemerintah segera melakukan penanganan darurat, memperkuat struktur jembatan, sekaligus merealisasikan normalisasi Sungai Kedungpane, agar akses vital penghubung antarwilayah tersebut tidak benar-benar terputus.
Editor: Ade MN
