UPDATECIREBON.COM — Wahid Foundation bersama Libu Perempuan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Kompilasi Praktik Baik dan Pembelajaran Pelaksanaan Program Tahun 2025 di Kabupaten Poso” di Hotel Ancyra, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Kegiatan ini menghadirkan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, tokoh masyarakat, media, civitas akademika serta perwakilan desa dampingan program.
FGD ini menjadi ruang bersama untuk merefleksikan capaian pelaksanaan program selama tahun 2025 sekaligus memperkuat sinergi multipihak dalam membangun ketahanan masyarakat dan kohesi sosial di Kabupaten Poso. Kegiatan turut dihadiri perwakilan pemerintah daerah, forum masyarakat, pemerintah desa, kelompok perempuan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Perwakilan Wahid Foundation, Fanani, menyampaikan bahwa program Desa Damai yang dijalankan sejak 2023 bertujuan memperkuat ketahanan dan kemandirian masyarakat melalui pelibatan kelompok perempuan, orang muda, dan pemerintah desa.
“Program ini tidak berdiri sendiri. Kami ingin memperkuat simpul-simpul kolaborasi yang sudah ada di masyarakat agar ketahanan sosial dapat tumbuh bersama dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, berbagai praktik baik dipaparkan, mulai dari penguatan kapasitas kelompok perempuan, penguatan forum masyarakat di tingkat desa, hingga ruang-ruang dialog lintas komunitas yang melibatkan masyarakat dan pemerintah desa.
Direktur Libu Perempuan, Dewi Rana, menegaskan bahwa pendekatan berbasis relasi sosial dan kepercayaan menjadi kunci dalam memperkuat kohesi sosial di tingkat komunitas.
“Pendekatan seperti ini tidak bisa berhenti pada ruang pertemuan formal saja. Trust atau kepercayaan menjadi fondasi penting agar sekat-sekat di masyarakat semakin menipis,” katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Poso, Markarma Lasimpala, menyampaikan apresiasi atas upaya berbagai pihak dalam menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Poso. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, dan komunitas menjadi bagian penting dalam memperkuat kehidupan sosial yang damai dan inklusif.
“Poso adalah miniatur Indonesia dengan keberagaman suku dan agama. Karena itu, penguatan toleransi dan saling menghargai harus terus dirawat bersama,” ujarnya.
Dalam forum tersebut juga disampaikan pentingnya memastikan berbagai inisiatif berbasis komunitas berjalan selaras dengan upaya penguatan ketahanan sosial dan pembangunan masyarakat yang inklusif di tingkat daerah maupun nasional.
Selain menjadi ruang refleksi capaian program, FGD ini juga menjadi wadah bagi peserta untuk menyampaikan masukan terhadap penguatan program ke depan, termasuk perlunya memperluas pelibatan perempuan, anak muda, dan komunitas lintas desa dalam membangun ruang aman, dialog, dan solidaritas sosial.
Ke depan, Wahid Foundation dan Libu Perempuan berharap praktik baik yang tumbuh dari masyarakat Poso dapat terus diperkuat dan direplikasi sebagai upaya bersama menjaga perdamaian, memperkuat kohesi sosial, serta mendorong masyarakat yang inklusif, tangguh, dan harmonis.(*)
