UPDATECIREBON.COM — Kalimantan Timur (Kaltim) keluar sebagai juara umum Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Kafilah Kaltim mengoleksi 288 poin, unggul atas Jawa Tengah yang meraih 208 poin dan DKI Jakarta dengan 129 poin.
Penetapan juara umum tersebut diumumkan dalam acara penutupan MTQ Nasional XXXI di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (19/9/2026).
Menteri Agama Nasaruddin Umar sekaligus menandai berakhirnya rangkaian MTQ dengan menyerahkan estafet penyelenggaraan kepada DKI Jakarta yang akan menjadi tuan rumah MTQ Nasional berikutnya pada 2027.
“Piala bergilir kembali ke Kalimantan Timur. Sampai jumpa di MTQ berikutnya di Jakarta,” ujar Nasaruddin dalam acara penutupan.
Nasaruddin menegaskan, berakhirnya kompetisi bukan berarti berhenti pula upaya membumikan Al-Qur’an. Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an justru harus semakin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah seluruh rangkaian perlombaan selesai.
“Malam ini musabaqah berakhir. Para juara telah ditetapkan dan mereka akan kembali ke daerah masing-masing. Namun, tugas kita untuk membumikan Al-Qur’an justru dimulai setelah kemeriahan ini,” tuturnya.
Ia kemudian menyampaikan empat arah pengembangan MTQ ke depan. Pertama, MTQ diharapkan berkembang dari sekadar ajang perlombaan menjadi ekosistem pembelajaran dan peradaban Al-Qur’an.
Pembinaan terhadap qari dan qariah, hafiz dan hafizah, mufasir, penulis, hingga kaligrafer dinilai perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan, bukan hanya menjelang kompetisi.
Arah kedua adalah menjadikan MTQ semakin inklusif. Pengembangan cabang bagi penyandang disabilitas, kata Nasaruddin, harus dibarengi dengan perluasan akses terhadap tenaga pengajar, metode pembelajaran, serta fasilitas keagamaan yang ramah disabilitas.
Arah ketiga berkaitan dengan perkembangan teknologi. Nasaruddin mendorong generasi Qurani untuk menguasai teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau AI, tanpa kehilangan integritas dan kompas moral.
“Teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas pendidikan, dakwah, dan akses pengetahuan, dengan tetap mewaspadai disinformasi, manipulasi, penyalahgunaan data, dan ujaran kebencian di ruang digital,” ujarnya.
Sementara arah keempat adalah mendorong MTQ agar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Nasaruddin, penyelenggaraan MTQ turut menggerakkan berbagai sektor, mulai dari perhotelan, transportasi, kuliner, perdagangan, UMKM, hingga industri kreatif.
Berdasarkan perhitungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan BPS yang disampaikan dalam acara penutupan, perputaran ekonomi selama penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.
“Ini menunjukkan bahwa syiar Al-Qur’an berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Nasaruddin.
Penutupan MTQ Nasional XXXI dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, antara lain Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, serta Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.
Turut hadir Ketua Umum LPTQ Nasional Abu Rokhmad, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, Kakanwil Kemenag Jawa Tengah Saiful Mujab, para kepala daerah, pejabat Kementerian Agama, alim ulama, Dewan Hakim, serta kafilah dari seluruh Indonesia.
Nasaruddin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI.
Ia juga berpesan kepada seluruh kafilah agar semangat Al-Qur’an yang tumbuh selama MTQ tidak berhenti di arena perlombaan, tetapi dibawa kembali ke daerah masing-masing.
“Sampaikan kepada masyarakat bahwa kita datang dari latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh kecintaan kepada Al-Qur’an dan pengabdian kepada Indonesia,” pungkasnya.
Editor: Yudistira
