UPDATECIREBON.COM – Berawal dari camilan sederhana berbentuk mirip lumpia, sumpia udang produksi Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, kini berkembang menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat setempat.
Kulitnya yang tipis dan renyah berpadu dengan isian udang rebon yang gurih, asin, dan sedikit manis. Di balik cita rasa tersebut, terdapat usaha rumahan yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade dan kini mampu menghasilkan hingga 1 ton sumpia per hari.
Salah satu pelaku usaha yang konsisten mengembangkan bisnis tersebut adalah Maksum. Sejak 2000, ia merintis produksi sumpia dari skala rumahan sederhana. Berkat ketekunan dan pengembangan usaha, proses produksi kini didukung peralatan semi-modern.
Besarnya kapasitas produksi tidak dikerjakan seorang diri. Maksum melibatkan puluhan warga sekitar, mulai dari proses pembuatan hingga pengemasan. Dengan demikian, usaha sumpia tersebut sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Talun.
“Bukan hanya mengejar keuntungan, saya ingin aktivitas produksi ini memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar dengan menyerap tenaga kerja,” ujar Maksum, Senin (7/9/2026).
Kelezatan sumpia produksi Maksum berasal dari racikan rempah-rempah serta penggunaan udang rebon berkualitas sebagai bahan utama. Produk ini juga praktis dikonsumsi dan cocok dijadikan camilan pendamping teh maupun kopi.
Kualitas tersebut membuat pemasaran sumpia tidak hanya terbatas di Kabupaten Cirebon. Produk Maksum telah menjangkau sejumlah daerah di Jawa Timur, di antaranya Blitar, Kediri, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Lamongan.
Pasarnya bahkan telah menembus Palembang, Sumatera Selatan. Untuk kemasan seberat 5 kilogram atau satu ball, sumpia udang tersebut dipasarkan dengan harga Rp115.000.
Namun, pengembangan usaha masih menghadapi sejumlah tantangan. Maksum menyebut ketersediaan bahan baku udang rebon dan distribusi ke luar daerah menjadi persoalan yang perlu terus diatasi.
Ia berharap pemerintah memberikan pendampingan serta fasilitasi agar produk UMKM Talun dapat memperluas pasar hingga mancanegara.
“Saya berharap produksi sumpia ini terus berkembang. Jika difasilitasi untuk ekspor, kami yakin bisa bersaing di pasar internasional dan memperluas lapangan pekerjaan,” harapnya.
Potensi UMKM di Kecamatan Talun juga mendapat perhatian pemerintah setempat. Camat Talun Agustino Alamsyah mengatakan, wilayahnya memiliki banyak pelaku UMKM dengan produk yang beragam, mulai dari kuliner hingga kerajinan.
Untuk memperluas pemasaran, pemerintah melalui pihak kecamatan tengah menginisiasi kegiatan Car Free Day dengan melibatkan kelompok pemuda Talun.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang promosi langsung bagi pelaku UMKM sekaligus mendukung pengembangan ekosistem desa wisata di wilayah Talun.
“Kami ingin produk lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk dikenal. Dengan begitu, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga membawa pulang produk khas buatan masyarakat setempat,” tegas Agustino.
Dari adonan tepung dan udang rebon, sumpia Talun kini bukan sekadar camilan. Produk tersebut menjadi bukti bahwa UMKM lokal mampu berkembang, menyerap tenaga kerja, memperluas pasar, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan dukungan pemerintah, penguatan bahan baku, distribusi, dan akses pasar, sumpia udang Talun berpeluang naik kelas dari produk lokal menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.
Editor: Alwi
