UPDATECIREBON.COM – CIREBON, 9 November 2025 – Suasana Minggu pagi yang cerah menjadi momentum istimewa bagi murid-murid PKBM Mitra Abadi Cirebon. Mereka mengikuti kegiatan Literasi Budaya dan Wisata Religi yang dikemas dalam bentuk outing class ke Masjid Agung Sang Cipta Rasa, salah satu situs bersejarah peninggalan Wali Songo di Kota Cirebon.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah PKBM Mitra Abadi, Sekar Sonata Syahdatina, S.Pd, didampingi dua guru tutor, Nita Yuliani dan Eka Wahyu Setiati. Sebelum menuju masjid, rombongan lebih dulu singgah di Keraton Kesepuhan untuk berfoto dan mengenal sejarahnya.
Keraton Kesepuhan sendiri merupakan peninggalan Pangeran Cakrabuana, putra Raja Kerajaan Pajajaran, yang didirikan pada tahun 1430. Dahulu, keraton ini dikenal dengan nama Keraton Pakungwati, diambil dari nama Ratu Nyi Mas Pakungwati, istri Sunan Gunung Jati.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan nilai budaya dan sejarah kepada peserta didik sekaligus memperkuat literasi mereka terhadap kearifan lokal Cirebon,” ujar Sekar Sonata.
Setibanya di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, para peserta disambut oleh Moh. Ismail, salah satu kaum masjid, yang kemudian memandu mereka mengenal bagian-bagian bersejarah dari masjid yang dibangun pada tahun 1480 oleh Wali Songo atas prakarsa Sunan Gunung Jati dan Nyi Mas Pakungwati.
Moh. Ismail menjelaskan bahwa gapura atau lawang Gledegan berasal dari kata Arab Ghofurun yang berarti ampunan. Filosofinya, setiap orang yang melangkah masuk ke masjid diharapkan berniat memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kesalahan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki makna mendalam: “Sang” berarti keagungan, “Cipta” berarti dibangun, dan “Rasa” berarti digunakan. Arsitekturnya memadukan unsur Islam dari Kesultanan Demak, Hindu dari Majapahit, serta budaya Cirebon itu sendiri. Masjid ini juga memiliki sembilan pintu yang melambangkan Wali Songo.
Peserta kemudian diajak masuk ke ruang utama tempat dikumandangkannya Adzan Pitu, tradisi khas Cirebon setiap pelaksanaan salat Jumat. Untuk masuk ke ruangan ini, pengunjung harus merunduk melewati pintu kecil—simbol kerendahan diri di hadapan Sang Pencipta.
Di ruang utama terdapat 30 tiang penyangga, yang masing-masing mengandung filosofi mendalam: melambangkan 30 juz Al-Qur’an dan 30 hari dalam sebulan. Dari jumlah tersebut, 12 tiang setinggi 17 meter merepresentasikan 12 bulan dalam setahun dan 17 rakaat salat wajib dalam sehari semalam.
“Pesan yang tersirat dari arsitektur ini sangat indah: umat Islam diingatkan untuk menjaga salat lima waktu, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir mengingat Allah SWT,” tutur Moh. Ismail.
Rombongan juga diajak melihat saka tatal, yaitu tiang yang terbuat dari potongan kayu yang diikat menjadi satu. Struktur ini melambangkan persatuan dan kesatuan umat Islam agar tidak mudah terpecah belah. Sebelum menutup kegiatan, peserta berwudu di dua kolam kembar yang melambangkan dua kalimat syahadat.
Para murid tampak antusias dan terinspirasi oleh pengalaman belajar langsung tentang sejarah dan budaya Islam di Cirebon.
“Kegiatan ini memberikan pelajaran berharga, bukan hanya tentang sejarah dan budaya, tetapi juga memperkuat iman dan rasa syukur. Kami belajar bahwa shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdzikir adalah kunci kehidupan yang damai,” ujar salah satu peserta.
Melalui kegiatan Literasi Budaya ini, PKBM Mitra Abadi Cirebon berharap para peserta didik semakin mengenal kekayaan sejarah dan nilai spiritual yang diwariskan oleh para wali, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal dan peninggalan Islam di tanah Cirebon.
Penulis: Eka Wahyu Setiati
Tutor PKBM Mitra Abadi Cirebon
