UPDATECIREBON.COM — Harga emas spot menguat pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Kenaikan terjadi ketika harga minyak mentah terus melemah sehingga meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi yang berkepanjangan.
Mengutip Reuters, harga emas spot naik 0,97 persen menjadi US$4.383,45 per ons pada penutupan perdagangan Jumat. Harga emas bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 11 September pada awal sesi perdagangan.
Penguatan juga terjadi pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat. Harga emas berjangka AS ditutup naik 0,6 persen menjadi US$4.424,90 per ons.
Presiden Pasar Global EverBank Chris Gaffney mengatakan, penurunan harga minyak membantu mengurangi tekanan inflasi. Kondisi tersebut turut memengaruhi posisi investor di pasar emas.
“Meredanya harga minyak mengurangi tekanan inflasi karena minyak telah menjadi pendorong utama inflasi secara keseluruhan,” kata Gaffney seperti dilansir Reuters.
Menurutnya, sebelumnya investor logam mulia memperkirakan kenaikan suku bunga AS dan mengambil posisi jual untuk memanfaatkan potensi pelemahan harga emas. Namun, posisi tersebut kemudian ditutup dengan cepat.
Harga minyak mentah Brent tercatat turun untuk sesi ketiga berturut-turut. Meredanya kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang mengimbangi kekhawatiran mengenai meluasnya konflik di Timur Tengah.
Penurunan harga minyak memberikan sedikit kelegaan terhadap kekhawatiran inflasi. Meski demikian, risiko gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.
Di sisi lain, dolar AS menguat ke level tertinggi dalam lebih dari tujuh minggu. Kondisi ini membuat emas yang dihargai dalam dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.
Pergerakan harga emas juga berlangsung di tengah perhatian investor terhadap kebijakan bank sentral.
Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75 persen–4 persen pada Rabu. Bank sentral AS juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, para pedagang kini melihat peluang sekitar 55 persen untuk kenaikan suku bunga AS berikutnya ketika para bankir sentral kembali bertemu pada Oktober.
Kenaikan suku bunga biasanya menjadi tantangan bagi emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil. Ketika suku bunga meningkat, aset yang menghasilkan yield dapat menjadi lebih menarik bagi investor.
Kebijakan moneter Jepang juga menjadi perhatian. Bank of Japan menaikkan suku bunga ke level tertinggi dalam 31 tahun dan mengisyaratkan kesiapannya untuk terus meningkatkan biaya pinjaman.
Dari sisi permintaan, pembelian emas di India cenderung lesu sepanjang pekan ini. Para pembeli memilih menunda transaksi sembari menunggu kemungkinan harga yang lebih rendah.
Sementara itu, premi emas di China relatif stabil dengan dukungan permintaan investasi yang masih kuat.
Gaffney mengatakan harga emas kini tengah menguji level resistansi di kisaran US$4.400–US$4.440 per ons.
“Emas saat ini sedang menguji level resistansi di kisaran US$4.400 hingga US$4.440, dan pergerakan di atas level resistansi ini dapat membuka jalan bagi kenaikan harga emas lebih lanjut,” ujar Gaffney.
Editor: Yudistira
