UPDATECIREBON.COM – Rencana pemerintah Jerman membeli dan menempatkan rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat memicu perdebatan sengit di parlemen. Kebijakan yang diumumkan Kanselir Friedrich Merz itu menuai dukungan dari koalisi pemerintah, namun mendapat penolakan keras dari partai-partai oposisi.
Dalam sidang Bundestag pada Kamis waktu setempat, Merz mengungkapkan bahwa Berlin telah mencapai kesepakatan dengan Washington untuk mengakuisisi sekaligus menempatkan rudal Tomahawk di wilayah Jerman. Pengumuman itu disampaikan sepulangnya dari KTT NATO di Ankara.
Para anggota parlemen dari koalisi CDU/CSU mendukung langkah tersebut. Mereka menilai kehadiran rudal jarak jauh akan menutup kekurangan kemampuan pertahanan Jerman, memperkuat pilar pertahanan Eropa di dalam NATO, sekaligus meningkatkan daya tangkal terhadap ancaman dari Rusia.
Namun, partai-partai oposisi menilai pemerintah terlalu memprioritaskan anggaran pertahanan dibandingkan program sosial. Mereka juga mempertanyakan ketergantungan Eropa terhadap Amerika Serikat di tengah dinamika politik Washington.
Sejumlah anggota parlemen menyoroti pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Spanyol dan Greenland yang dinilai menunjukkan bahwa Eropa tidak dapat sepenuhnya bergantung pada kepemimpinan Amerika Serikat dalam urusan keamanan.
Ketua Partai Alternatif untuk Jerman atau AfD, Tino Chrupalla, menilai masyarakat Jerman tidak lagi menginginkan kebijakan yang mengarah pada peningkatan kesiapan perang. Ia juga mengkritik kebijakan wajib militer yang baru diumumkan pemerintah serta menyerukan agar NATO lebih berperan sebagai aliansi perdamaian.
Sementara itu, Ketua Partai Sosial Demokrat atau SPD, Matthias Miersch, menyatakan bahwa pernyataan Trump mengenai Greenland dan Spanyol menjadi pelajaran penting bagi Eropa. Menurutnya, benua itu perlu memperkuat kemampuan strategis sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada kebijakan seorang presiden Amerika Serikat.
Kesepakatan terbaru antara Berlin dan Washington muncul setelah pemerintah Amerika Serikat pada Mei lalu mengumumkan rencana pengurangan kehadiran militernya di Jerman. Kebijakan tersebut sempat menimbulkan ketidakpastian terhadap rencana penempatan batalion rudal jarak jauh Amerika Serikat di negara itu.
Sebelumnya, pemerintah Jerman mendukung penempatan sistem persenjataan tersebut sebagai bagian dari strategi pencegahan terhadap Rusia, sembari menunggu pengembangan kemampuan rudal jarak jauh milik negara-negara Eropa.
Isu pertahanan, perang di Ukraina, serta masa depan NATO menjadi agenda utama dalam KTT NATO yang berlangsung di Ankara pada 7 hingga 8 Juli. Hasil pertemuan tersebut diperkirakan akan memengaruhi arah kebijakan pertahanan negara-negara anggota aliansi dalam beberapa tahun ke depan.
Editor: Alwi
