Bali (UPDATECIREBON.COM) – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (Ditjen Hubud) menjadi tuan rumah The Fourth Meeting of ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP) Working Group 5 (WG5) dalam siklus kerja CAEP ke-14. Pertemuan yang berlangsung di Bali itu diikuti sekitar 130 pakar bahan bakar penerbangan dari berbagai negara, baik secara luring maupun daring.
Forum internasional tersebut menjadi ajang memperkuat kolaborasi global dalam mendukung dekarbonisasi sektor penerbangan melalui pengembangan bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) serta penyempurnaan kebijakan teknis di bawah Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).
Sebagai anggota ICAO Committee on Aviation Environmental Protection (CAEP), Indonesia melalui perwakilannya, Syamsu Rizal, menyampaikan komitmen untuk terus berkontribusi aktif dalam penyusunan kebijakan penerbangan berkelanjutan yang berbasis ilmu pengetahuan dan kerja sama internasional.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Ditjen Hubud, Sokhib Al Rokhman, mengatakan penyelenggaraan Working Group 5 di Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi global dalam mempercepat transformasi sektor penerbangan menuju masa depan yang lebih ramah lingkungan.
“Penyelenggaraan Working Group 5 di Bali menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi global dalam mempercepat transformasi sektor penerbangan menuju masa depan yang lebih berkelanjutan,” ujar Sokhib.
Ia menjelaskan, Working Group 5 memiliki peran strategis melalui tiga kelompok kerja, yakni Life Cycle Assessment (LCA), Sustainability, dan Technology, yang menjadi landasan teknis dalam pengembangan CORSIA Eligible Fuels untuk mendukung pengurangan emisi karbon penerbangan internasional.
Menurut Sokhib, industri penerbangan saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, dinamika geopolitik global, hingga fluktuasi pasar energi. Karena itu, percepatan transisi menuju energi yang lebih ramah lingkungan dinilai menjadi kebutuhan sekaligus strategi untuk memperkuat ketahanan energi jangka panjang.
Indonesia juga menegaskan bahwa pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) harus mengakomodasi beragam sumber bahan baku dan teknologi yang dimiliki setiap negara. Pendekatan tersebut dinilai penting agar seluruh negara dapat berkontribusi sesuai dengan potensi masing-masing tanpa mengabaikan standar keberlanjutan yang ditetapkan ICAO.
Selain itu, Indonesia menekankan pentingnya seluruh metodologi pengembangan SAF, mulai dari Life Cycle Assessment, evaluasi teknologi, hingga penilaian keberlanjutan, disusun secara transparan, berbasis bukti ilmiah, dan bebas dari intervensi politik agar implementasinya dapat berlangsung adil dan kredibel.
“Indonesia meyakini bahwa keberhasilan dekarbonisasi penerbangan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi internasional yang didukung oleh ilmu pengetahuan, transparansi, dan inovasi. Kami mendukung pengembangan Sustainable Aviation Fuel melalui beragam sumber bahan baku dan teknologi yang memenuhi standar ICAO, sehingga setiap negara dapat berkontribusi sesuai potensi yang dimilikinya. Melalui forum ini, kami berharap lahir berbagai rekomendasi teknis yang memperkuat implementasi CORSIA Eligible Fuels sekaligus mendukung pertumbuhan penerbangan internasional yang berkelanjutan,” kata Sokhib.
Sebagai negara kepulauan yang sangat bergantung pada transportasi udara untuk menghubungkan masyarakat dan mendukung pertumbuhan ekonomi, Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mengambil peran aktif dalam mendukung agenda dekarbonisasi penerbangan dunia serta memperkuat kontribusinya di komunitas penerbangan internasional.
Editor: Alwi
