UPDATECIREBON.COM – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) atau yang biasa disebut Pemilihan Kuwu (Pilwu) serentak di Kabupaten Cirebon pada 22 Oktober 2023 tinggal menghitung hari, 100 dari 412 desa dipastikan ikut melaksanakan pesta demokrasi 6 tahunan tersebut.
Berbagai tahapan sudah dilalui, dan saat ini sedang memasuki masa tenang. tapi dibalik ketenangan tersebut, diduga harus terkotori atau tidak sehatnya pesta demokrasi tersebut oleh oknum-oknum calon kuwu (calon kepala desa, red) yang mempunyai kekuatan finansial.
Desa Sidawangi yang terletak dibagian selatan ibukota Kabupaten Cirebon yakni Sumber ini. Salah satu desa yang menjadi pembicaraan hangat dikalangan masyarakat luar desa, salah satunya muncul dari Asmari seorang masyarakat pemerhati pemerintahan desa.
Asmari menuturkan beberapa permasalahan yang dinilai oleh dirinya haruslah diungkap kepermukaan publik, menurutnya, dari ke 5 Calon Kuwu (kepala desa) yang akan bertarung memperebutkan kursi kuwu/kepala desa sidawangi tersebut. 2 diantaranyalah yang membuat tidak sehatnya proses pemilihan karena menggunakan kekuatan finansial, sementara ke 3 calon lainnya lebih banyak memilih diam.
Bahkan saking diamnya, adu kekuatan finansial yang sudah mencolok mata tersebut dibiarkan tanpa adanya tindakan apapun dari pihak panitia pemilihan kepala desa/pemilihan kuwu. penuturan Asmari disampaikan kepada wartawan media ini pada Kamis 19 Oktober 2023 disebuah warung yang ada diwilayah Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon Provinsi Jawa Barat, menurut Asmari, 2 calon yang beradu kekuatan finansial itu yakni nomer 3 dan nomer 4.

Berdasarkan bukti-bukti yang dirangkum Asmari dan ditunjukkan kepada wartawan media ini adalah, calon kuwu nomer 3 membagikan sembako dan di titik-titik lokasi tertentu dibarengi juga dengan uang serta nomer 4 membagikan uang 100 ribu per hak pilih.
Jadi jika dalam 1 rumah terdapat 5 hak pilih, maka uang yang dibagikan berjumlah 500 ribu.
“saya temukan pamer kekuatan finansial dari nomer 3 lewat pembagian sembako, dan dari nomer 4 lewat pembagian uang 100 ribu. Dan itu terjadi diblok cikadu serta blok sereh beureum, dimana kedua blok tersebut dari hasil pantauan saya”. Kata Asmari.
Cikadu adalah blok dengan jumlah paling banyak hak pilihnya, dari sekian banyak blok. Hal ini menurut saya, bisa membuat proses pemilihan kuwu atau kepala desa di desa sidawangi menjadi tidak sehat. karena walaupun ke 3 calon lain dari ke 5 calon tadi diam dengan tidak melaporkan hal tersebut, bukan berarti mereka tidak tahu. Dan panitia pelaksana juga, tidak mungkin tidak tahu. Mungkin hanya karena tidak ada yang merasa keberatan dengan membuat laporan atau bagaimana gitu tuh, dan saya duga panitia juga lebih baik memilih diam dalam hal ini. Saya sih hanya berharap, semoga hal tersebut tidak terjadi di desa-desa lain yang juga sama-sama ikut pada pemilihan kuwu/kades serentak pada 22 oktober yang tinggal menghitung hari tersebut. karena tidak menutup kemungkinan, hal-hal tadi bisa saja merugikan calon-calon lain yang tidak mapan secara finansial tapi benar-benar mau menjadi kades/kuwu yang bersih niat dan ingin membuat desanya lebih maju yang terbebas dari praktik kkn (korupsi, kolusi, dan nepotisme”, pungkasnya. (Kusyadi)
