UPDATECIREBON.COM – Pemimpin tertinggi umat Katolik dunia akan melakukan perjalanan ke Asia Pasifik termasuk ke Indonesia, Indonesia menjadi negara pertama yang akan dikunjungi selama 4 hari Mulai dari 3 hingga 6 September 2024, diikuti Papua Nugini Timor Leste dan Singapura.
Lawatan tersebut bukanlah kali pertama, kunjungan terakhir paus ke Indonesia terjadi pada 1989, saat itu Gereja Katolik Roma dipimpin oleh paus Yohanes Paulus 2. Majalah Tempo edisi 14 Oktober 1989 memuat laporan kunjungannya dengan sampul berjudul ‘Paus Datang’.
Bagaimana persiapan dan perjalanan Paulus kala itu,
Dikutip dari PUTAR BALIK TEMPO, Paus Yohanes Paulus 2 pernah berkunjung ke Indonesia selama 6 hari, pada 9 hingga 14 Oktober 1989. Kedatangan paus kala itu memenuhi undangan Soeharto dan Gereja Katolik Indonesia yang sudah dipersiapkan setahun lamanya. Kedatangan Sri Paus disambut ratusan ribu pengikutnya yang mengikuti misa di lima daerah, yakni di Jakarta, Yogyakarta, Dili, Maumere dan Medan. 5 bulan setelah mendapat kepastian bahwa Pemimpin tertinggi Gereja Katolik itu akan ke Indonesia, panitia pun dibentuk, dana mulai dihimpun dari kolekta dan sumbangan berbagai penderma.
Agaknya dia pihak yang menolak kunjungan paus, sebelum pemimpin Katolik itu datang, muncul sebuah surat kaleng berisi ancaman, surat itu dipajang di museum katedral Jakarta. Humas Gereja katedral, Susiana Suwandi mengatakan saat itu paus diancam dibunuh, dalam warkat itu kata dia paus akan disambut dengan golok, granat, hingga ditembak di tengkuknya. Pernyataan itu disampaikan Susi dalam wawancara di akun YouTube Nasional geografi pada 27 Desember 2022. Walau tak jelas siapa pengirimnya, pengamanan ketat dikerahkan, kunjungan itu akhirnya berjalan kondusif.
9 Oktober 1989. Paus tiba bersama rombongan yang terdiri dari 30 staf kepuasan dan 2 wartawan Vatikan. Selain itu ada pula 55 wartawan lain yang meliput kunjungan tersebut dengan ongkos sendiri. Begitu mendarat di Indonesia dengan pesawat Korean airlines ini bandara Halim perdana Kusuma, Paus langsung mencium tanah, itu dilakukan sebagai tanda hormat dan cinta kepada negara yang dikunjunginya. Kebiasaan itu memang kerap dilakukan paus ke 264 yang bernama asli Karol Josef Wojtyla. Disambut menteri luar negeri Ali Alatas, Paus Yohanes Paulus 2 yang saat itu berusia 69 tahun diantar ke istana merdeka.
Upacara kenegaraan menyambut tamu resmi digelar dengan dentuman meriam 21 kali dan pemeriksaan barisan yang dipimpin langsung oleh Soeharto. Paus sempat melakukan pembicaraan empat mata dengan Presiden Soeharto dan menghadiri jamuan kenegaraan. Selesai pertemuan resmi kedua kepala negara bertukar cenderamata, Presiden memberikan lukisan dan Paulus menyerahkan foto basilika sang Petrus. Dalam pertemuan dengan Soeharto menurut Mensesneg Murdiono, sempat dibicarakan masalah Pancasila.
Dalam kesempatan itu, paus juga mendapatkan penjelasan mengenai perkembangan pembangunan di Timor Timur. Sri Paus, kata Murdiono menghargai peran pemerintah Indonesia dalam menciptakan perdamaian di Asia. Selama di Jakarta paus tidak menginap di wisma negara yang terletak di kompleks Istana, tidak seperti kepala negara lain, paus memilih menginap di kedutaan besar Vatikan sebuah bangunan dan kantor di jalan merdeka Timur 18 yang cuma mempunyai 5 kamar. Ini memang kebiasaan Sri Paus yang sudah mengunjungi 90 negara yakni tak pernah menginap di kediaman resmi yang disediakan oleh negara tuan rumah.
Disadur dari PUTAR BALIK TEMPO.
