UPDATECIREBON.COM – Roti AOKA yang diproduksi oleh PT. Indonesia Bakery Family Bandung Jawa Barat diduga memiliki kandungan zat pengawet berbahaya jika digunakan pada makanan.
Dikutip dari podcast TEMPO Jelasin Dong, dengan judul ” Waspada Roti Diduga Berbahan Pengawet Berbahaya” Hasil penelusuran Tim Ekonomi Bisnis Ghoida Rahmah dan Retno Sulistyowati menyampaikan temuan di lapangan roti AOKA menggunakan Sodium Dehydroacetate atau zat pengawet yang berbahaya jika digunakan pada makanan.
Menurut Retno, kasus dugaan merk roti yang mengandung zat berbahaya bermula dari daerah Kalimantan Selatan.
“Jadi disana itu UMKM produksi roti, heboh dengan roti pendatang baru yang menyebabkan pasar mereka tergerus, jadi sebelumnya mereka itu bisa jualan dengan jumlah yang besar, terutama disana itu konsumennya adalah nelayan, jadi nelayan yang akan melaut biasanya mereka dalam jangka waktu lama, berapa hari mereka itu biasanya memborong roti untuk bekal selama mereka di laut”, kata Retno.
Namun, belakangan penjualan mereka menurun drastis, setelah diselidiki ada produk baru yang harganya murah, dan yang paling menarik itu expired date nya lama sampai 3 sampai 6 bulan.
“Nah ini kan di luar kewajaran dan roti ini beredar di pasar tradisional di warung rokok, warung kelontong, warung-warung yang sehari-hari kita temui di jalanan dan roti ini tidak beredar di minimarket mereka roti ini beredar di pasar tradisional”, tutur Retno.
Lebih lanjut Retno memaparkan, jika roti yang diproduksi rumahan bertahan hanya 3 sampai 5 hari, sementara roti AOKA dapat bertahan 3 sampai 6 bulan.
Senada dengan Retno, Ghaida Rahmah juga mengatakan bahwasanya roti ini sangat digemari oleh anak-anak, terutama untuk bekal ke sekolah dan roti ini memiliki berbagai macam varian rasa dan harganya juga tergolong murah.
“Selain di Kalimantan Selatan, temuan serupa juga terjadi di Bandung Jawa Barat jadi memang roti ini kalau kita lihat produksinya di Bandung Jawa Barat. Di Bandung itu ada namanya central roti UMKM, itu industri roti rumahan itu terletak di gang Babakan Rahayu di daerah Kopo, mereka ini biasanya dari berbagai daerah ambil dari roti mereka. cuman akhir-akhir ini mereka sepi nggak selaris biasanya nggak banyak yang ambil ke mereka”, kata Ghaida.
Setelah ditelusuri ada dua truk kontainer yang membawa roti ke lokasi tersebut, para produsen ini akhirnya memilih untuk menjadi distributor roti AOKA yang dinilai lebih menarik dibanding roti rumahan yang mereka buat.
“Pelaku UMKM di Kopo itu ujung-ujungnya ikutan jadi jadi distributor jualan roti ini, jadi pabriknya tutup karena toh konsumen juga menyukai roti ini”, kata Ghaida.
Di Bandung roti AOKA ini dijual harga dikisaran Rp 2.500 sampai Rp 3000, sementara untuk wilayah di Jakarta dijual dengan harga Rp 3.000. Sebenarnya roti AOKA ini jika dibandingkan dengan roti produksi rumahan, sebenarnya mirip, namun kemasan roti AOKA lebih menarik dibanding dengan roti produksi rumahan.
“Terus mereka punya expired date yang lama atau masa kadaluarsa yang lama sampai 6 bulan itu yang menjadi salah satu pertimbangan konsumen akhirnya beralih ke roti ini”, kata Ghaida.
Roti ini awet diduga menggunakan bahan pengawet yang tidak wajar yang biasanya digunakan di roti.
Dari hasil uji laboratorium kadin Kalimantan Selatan ternyata ditemukan ada zat bernama Sodium Dehydroacetate, zat ini biasa dipakai untuk kosmetik. Zat ini anti mikroba sehingga wajar jika daya tahannya jadi lama, namun masalahnya apakah ini aman buat produk makanan.
Sementara itu, Guru Besar Teknologi Pangan IPB prof Sugiyono zat Sodium Dehydroacetate ini memang anti mikroba, sehingga berfungsi sebagai pengawet makanan, namun apakah aman untuk dikonsumsi, Prof Sugiyono menjelaskan bahwa dari lembaga internasional belum mengatur untuk penggunaan di produk makanan, terkait Sodium Dehydroacetate
di berbagai negara masih memiliki tanggapan beragam, di Indonesia sendiri Badan POM belum mengatur atau belum mengeluarkan izin untuk zat Sodium Dehydroacetate berada di produk makanan.
“Dari hasil riset yang kami lakukan, untuk jenis zat ini jika digunakan berlebihan khususnya di bahan makanan ada beberapa resiko untuk kesehatan manusia, yang pertama alergi, ini kan sesuatu yang gampang terlihat seperti gatal-gatal ruam di kulit, yang kedua gangguan pencernaan, seperti mual diare, nah yang paling bahaya karsinogenik bisa menyebabkan kanker kalau dikonsumsi berkepanjangan Jadi mungkin saja dampaknya tidak dirasakan sekarang-sekarang”, kata Ghaida.
Reporter: Baidhowi
Editor: Ahmad
